Vokal

a i u e o

i u e o a

u e o a i

e o a i u

o a i u e

a u e o i

a e o i u

a o i u e

i u e o a

i e o a u

i o a u e

i a u e o

u o a i e

u a i e o

u i e o a

e a i u o

e i u o a

e u o a i

o i u e a

o u e a i

o e a i u

Aku Ini Anak Siapa?

Itu adalah salah satu meme lawas di 1cak yang juga misteri abad ini yang hingga kini pun saya tak bisa menemukan jawabnya. Maka dari itu saya menantang para agen Cool Japan  untuk  memberikan pencerahan kepada saya.

Jangan-jangan nanti ujung-ujungnya Shizuka sebenarnya adalah anak biologis dari ayah Nobita? 

Jika memang begitu coba bayangkan bagaimana perasaan Nobita yang ternyata mencintai saudara kandungnya sendiri. Pastilah hancur berantakan itu seluruh hati dan jiwanya, tapi tenang jika Nobita atau Anda-anda sekalian stress berat dan membutuhkan jalan pintas saya punya solusinya, inilah dia “mainan” yang bisa menentramkan jiwa Anda-anda sekalian

Cukup dengan Rp 123.456,- saja Anda dapat memilikinya, dan jangan lupa produk ini bergaransi. Jika gagal pada 3 percobaan pertama silakan hubungi call centre kami niscaya seperangkat algojo akan hadir di depan Anda denhan tingkat keberhasilan eksekusi 99.88%. Tunggu apa lagi, silakan datangi outlet terjauh kami, akan ada diskon sebesar 0.05% bagi pembeli ke-37. Tunggu apa lagi Dek!

Biola Tak Bergawai

Tahun 90-an ya??? Hmm, hal yang tentunya terkenang bagi saya adalah masa di mana tilpun yang katanya pintar belum menyerang kehidupan manusia. Ketika parameter kesuksesan dalam musik masih diukur dengan jumlah kopian album, bukan dari banyaknya diunduh atau diputar via layanan streaming; ketika suara belum menjadi amat sintetis. 

Berbicara mengenai masalah pada dekade 1990-an tentunya yang menjadi kenangan bagi saya adalah koleksi album fisik, baik dalam bentuk kaset maupun VCD. Saya jadi ingat kaset pertama yang saya amat idamkan dan akhirnya saya miliki ketika berulang tahun di akhir 1990-an, album pertama dari Sheila on 7. Kado yang amat sederhana karena hanya dibungkus kertas koran saja, saat bungkus kado belum menjadi sebuah komoditas berarti macam sekarang. Mengikuti setelah itu, album dari Caffeine hingga Westlife, mengingat otak saya belum diracuni Thom Yorke dan Richard Ashcroft.

Selain itu, masa di mana saya belum genap 10 tahun itu juga ditandai dengan berjayanya lagu anak-anak. Ketika Sherina masih menjadi “bocah suci” idaman cowok masa itu. Begitu pun saya, sampai-sampai saya pun cemburu hingga marah ketika dia dengan entengnya dicium jidatnya oleh Derby Romero. Saya pun saat itu menyimpan dendam kesumat dengan si cowok songong itu. Perasaan yang sama mungkin juga bakal dialami para vvota di masa kini ketika oshi mereka disentuh-sentuh secara sembarangan oleh pesohor layar kaca. Rasanya amat bahagia ketika saya mendapati video musik Sherina ditayangkan di acara-acara musik pada masa itu, baik yang dipandu oleh Agnes Monica maupun Trio Kwek Kwek.

Lalu, saya juga jadi teringat masa TK di sekolah “budidaya” Amien Rais, sekitar medio 1990-an tentunya. Ketika itu, ada seorang gadis yang menjadi primadona yang bernama Amelia. Ya karena saya memang amat berbakat menjadi cowok songong, tentunya saya suka curi-curi kesempatan dengan dia. Misal, ketika kami bermain petak umpet atau kejar-kejaran dan dia yang mendapat giliran “jaga”, saya selalu mengalah sampai teman-teman cowok saya lainnya jelas pada sambat kepada saya. Terus, tiap Minggu saya selalu meminta Bapak saya mengantarkan saya  ngapel ke rumahnya, sampai saya meminta dibelikan TV yang sama dengan milik si Amelia ini, TV Sony 21″ yang entah apa serinya. Sedihnya, TV saya ini kemudian dimaling ketika saya sedang tidur di hadapannya menjelang Piala Dunia Perancis 1998: hancurlah hati dan perasaan saya kalau itu, huhu. Hal yang paling membuat saya paling penasaran bukanlah nasib TV saya dulu yang tentunya sudah ketinggalan zaman, melainkan bagaimana perawakan Amelia saat ini, hoho, mengingat kami terpisah semenjak lulus dari TK di daerah Pandean Sari itu.

Itu saja deh, malas juga menulis “lebih larut” lagi, sudah cukup buka aibnya. Salam saja buat Amelia, yang saya sendiri lupa siapa nama lengkapnya.

Terjebak Cinta Seorang Feminis

Dari judulnya kok kaya judul FTV ya? Bodo amat lah, karena materi ini jujur terlintas begitu saja. Saya hanya ingin menceritakan kisah saya ketika “terjebak” cinta seorang feminis, kalau misal rada seksis harap maklum ya karena memang itu sedikit disengaja demi bumbu-bumbu cerita.

Hal apa saja sih yang selalu menjadi perdebatan dengan pasangan yang memiliki kiblat pemikiran feminis?

1. Warna Baju

“Kok cowok bajunya monokrom terus sih? Bisa nggak sih cowok pake baju yg colourful? Besok pokoknya kalau beli baju kamu pilih yang warna pink!” Begitu lah kiranya sabda doi menanggapi warna pakaian saya yang dominan hitam dan putih saja, kalaupun berwarna ya mungkin hanya yang berwarna “maskulin” macam merah atau biru. Ya mulai sejak itu akhirnya saya tidak pernah memilih hitam atau putih sebagai pembalut tubuh saya karena black and white itu sudah menjadi milik Michael Jackson. 

2. Ambil Alih Kemudi

“Sini biar aku aja yang boncengin kamu, dan kamu nggak usah malu ya kalo diboncengin cewek.” Seperti itu lah kemauan doi yang tak mau sekedar hanya menjadi “beban”, tapi justru mau menanggung “beban” di belakangnya, yaitu saya sendiri. Awalnya pasti sebagai lelaki yang amat sangat ma(c)ho saya merasa tengsin lah ya, apalagi ketika mendapati pandangan sinis sana sini ketika di jalan dari para pengguna jalan lagi, apalagi ketika tengah berhenti di lampu merah. Dalam pikiran saya berkecamuk kalau mereka bilang, “ih, cowok itu nggak guna banget ya, masa diboncengin sih sama cewek”. Yang paling berat tentunya ketika doi kedinginan dan minta dipeluk, ya masa saya peluk dari belakang? Apa nggak aneh coba? Nah, itu sebenarnya yang bagi saya justru menjadi semacam tindakan diskriminasi terhadap laki-laki. Laki-laki macam saya itu kerap dipandang “impoten”. Itu masih mending, coba bayangkan ketika ada sepasang perempuan bergandengan tangan, orang-orang pasti berasumsi bahwa mereka sepasang xahabat. Namun, jika laki-laki yang melakukannya pasti dianggap ah sudahlah. Entah kenapa makin ke sini dunia makin tak adil bagi laki-laki.

3. Tidak Mau Menikah

“Aku sih pengennya nggak nikah sama nggak punya anak. Aku maunya hidup bareng aja satu rumah tanpa ikatan pernikahan kaya di Barat. Tapi aku juga pengen ngasih nama Winter buat anakku nanti.” Kiranya seperti itu lah cara pandang doi terhadap komitmen berkeluarga yang membuat saya bingung adalah doi nggak pengen punya anak, tapi udah nyiapin nama anak??? Kan saya jadi bingung, lalu saya memberi solusi dengan menawarkan adopsi saja, tapi sama saja dia membalas, “ribet”. Akhirnya dia berubah pikiran, “Ya udah deh, aku mau ngelahirin tapi 1 anak aja, dan itu cowok biar cocok sama nama pilihanku”. Nah, itu justru makin runyam lagi situasi, yang akhirnya memaksa saya mencari “jurus” agar anak yang dihasilkan bisa berjenis kelamin laki-laki. Tentunya, saya tak akan membocorkannya di sini lah ya, hoho. Namun, sama saja, anak itu tidak diperoleh dari buah pernikahan, hal yang bisa membuat saya dirajam 1 bulan non stop oleh keluarga besar saya yang memang keluarga Muhammadiyah, hoho.

4. Make-Up

“Itu kok eyeliner sama eyeshadow kamu nggak cocok sih? Harusnya kan disesuaiin sama warna baju aja” itu komentar saya saat doi tumben macak saat ngampus dengan dandanan yang cukup “heboh” dibandingkan biasanya yang lebih terkesan natural. Komentar dia? Diam dan ngambek, hoho. Mungkin dia kesal kok bisa-bisanya saya lebih paham soal make up dibanding doi, ya padahal saya cuma modal sotoy saja setelah mengikuti Make-Up class dari Wardah. (Duh, ketahuan)

Ya begitulah kiranya hal-hal yang sering menjadi perdebatan ketika berpasangan dengan perempuan yang menjiwai feminisme. Perlu dicatat, itu hanya pengalaman saya pribadi jadi jika ada perbedaan pemahaman ataupun cara pandang harap maklum. 

Love Yourself #2

Yak, post kali ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya 2 hari yang lalu mengenai “perbudakan” cinta atau apalah itu namanya. Langsung saja saya mulai kalau begitu, tak usah berbasa-basi (lha ini kan juga basa-basi).

Sebelumnya saya membicarakan asal muasal drama romansa yang berasal dari dominasi sepihak, kali ini pun sama, hanya saya yang satu ini memang lebih luar biasa kasusnya. Kali ini saya akan membicarakan seseorang lelaki yang memang punya pesona luar biasa hingga para wanita pun rela “merendahkan” dirinya demi bisa “menyentuhnya”. 

Ya, kenyataanya memang siapapun perempuan yang “dekat” dengannya harus rela kehilangan identitasnya; tentunya karena dominasi luar biasa dari si lelaki ini. Misalnya, dari cara menulis, berpikir, hingga obsesi si perempuan pun sudah menjadi konstruksi si lelaki. Tengoklah saja dari hal yang sederhana; keseragaman domain blog yang sama-sama menggunakan​ Tumblr. Bukan hanya itu saja, cara menulisnya pun juga sama, bukan lagi serupa, diksi yang digunakan, tema yang dipilih, hingga pola penulisan. Bukankah itu merupakan salah satu bentuk dominasi yang sudah di luar batas wajar??? Kalau itu hanya terjadi sekali saja mungkin masih bisa dianggap wajar, nyatanya ini tidak terjadi hanya sekali saja; bukti bahwa si lelaki ini memang selalu melakukan dominasi berlebihan.

Selain itu, cekokan mengenai pemikiran ala-ala pemikir Inggris juga merajai pikiran si perempuan. Tengoklah ketika sedang menanggapi materi dosen di kelas, pasti si perempuan akan langsung membahas ala pemikiran si orang Inggris tersebut. Sebenarnya itu ada salah satu penanda bahwa si perempuan sebenarnya hanya bisa melihat 1 perspektif saja; yakni apapun dari si lelaki. Begitu pula dengan si lelaki, dia hanya bisa melihat dari 1 perspektif saja; apapun mengenai dirinya sendiri. 

Tak heran makanya apabila si lelaki ini ditinggal oleh orang yang paling dicintainya setelah membangun hubungan selama 4 tahun. Hal itu wajar karena pasti si pasangan yang dicintainya lelah hidup dalam “penjara” si lelaki. Jika memang cinta sudah selayaknya memberi kebebasan kepada pasangan, bukan justru “menjajahnya” dengan keegoisan diri. Biarkanlah dia menari dengan bebas dengan iringan cinta, bukan justru memaksanya menari dengan “rantai” seperti atraksi topeng monyet. Seharusnya peristiwa itu menjadi pembelajaran bagi si lelaki, namun apa daya ternyata keegoisan masih merajai hati dan pikirannya jadi semua rencana Tuhan seakan terbuang percuma.

Dari situ sudah jelas kan bagaimana sejatinya si lelaki ini amat mencintai dirinya sendiri hingga ia memaksa orang yang mencintainya menjadi seperti dirinya, dalam segala hal tentunya. Jika si lelaki ini masih mempertahankan tradisi tersebut saya yakin dia tidak akan pernah memiliki hubungan yang “sempurna”. Lagi, saya juga heran hari gini ternyata masih ada perempuan yang rela didominasi, apalagi mereka yang telah mendapat cekokan cara pandang kritis hingga feminisme. Sampai kapan sih kalian rela didominasi? Bahkan hingga “true self” kalian sendiri hilang sekalipun kalian masih rela didominasi? Kalau memang kalian mencintai si lelaki lebih baik kalian memberi “tamparan keras” bukan justru hanyut dalam genjutsu si lelaki, tentunya ini semua juga demi kebaikan si lelaki. Percuma kalian berbicara lantang mengenai self-identity hingga proyek refleksi jika kalian sendiri tidak bisa being reflective & reflexive. Begitu juga si lelaki, selalu mengulang-ngulang mengenai proyek refleksi diri namun tak bisa berefleksi dan terus melakukan “kesalahan” yang sama. Bagi si perempuan, dengan menuruti segala permintaan dan arahan si lelaki justru sejatinya akan semakin menyiksa mereka: si lelaki tak akan pernah sadar akan kesalahannya dan si perempuan seolah akan “mengubur” dirinya hidup-hidup. Come on girls, kalian ini punya otoritas, percuma kalian mendapat cekokan ini itu dari Bu Nana atau Bu Wening jika nyatanya masih hidup dalam kungkungan lelaki yang tidak jelas arahnya. Takut kehilangan itu bukanlah sebuah alasan, bukankah kalian sudah belajar Semiotika dengan Pak Kris? Percuma jika kalian hanya curhat di media sosial atau menahan tangis semalam, itu tak akan pernah menyelesaikan masalah dan si lelaki pun tak akan menggubrisnya.

Hmm…ternyata saya malah menulis dengan panjang lebar rupanya dengan bahasan yang cukup serius. Lebih baik saya akhiri saja tulisan ini dengan sedikit menggantung. Mungkin kalian yang membaca bertanya-tanya siapakah sosok lelaki yang saya bicarakan kali ini. Ya, saya sedang membicarakan diri saya sendiri.

Jika Aku Menjadi….

Hmmm, sebenarnya saya kurang suka tema yang penuh pengandaian seperti ini, ya karena saya bukan tipe orang yang suka berandai-andai. Tetapi ya apa boleh buat, karena berbagai urusan “dalam negeri”, saya harus merelakan jabatan admin kepada seorang Tanya Eirena yang sesungguhnya hanyalah “bawahan” seorang Levi Sunarko yang penuh kuasa.

Jika saya menjadi pemegang otoritas tertinggi di UGM, seorang rektor, hal yang pertama kali saya lakukan adalah menaruh tahta kepemimpinan saya dan memberikannya kepada seorang Sunarko Levi karena tak ada lelaki yang mempunyai otoritas pemikiran seperti dia. Lagi, dia sudah memahami seluk beluk UGM sepenuhnya karena memang sudah melanglang buana sejak tahun 2001 di UGM, tengok saja koleksi mantannya yang mencapai ratusan, hoho.

Lantas apa yang saya lakukan selanjutnya? Tentunya saya akan menuju UB, joining UB is the best, together we share!

Love Yourself #1

Jika ditilik dari judulnya mungkin saya seolah akan bercerita mengenai tembang milik penyanyi asal Kanada, Justin Bieber, namun sejatinya tidak juga. Memang saya akui post kali ini sedikit terinspirasi dari situ, meski 1 baris liriknya pun saya tidak hafal. Seperti layaknya post ala “Maling Jemuran” sebelum-sebelumnya inspirasi terbesar jelas datang dari lingkungan sekitaran KBM sendiri. Jadi, kalau ada yang merasa tersindir akibat tulisan ini saya ucapkan terima kasih banyak karena itu memang tujuan utama saya, hoho.

Kenapa saya tertarik menulis tentang tema cinta seperti ini? Ya tentunya karena saya melihat romansa di lingkungan KBM yang berwarna-warni cenderung mengarah ke drama. Dari drama-drama yang ada nampak jelas sebuah pola yang sama sehingga drama itu bisa terjadi: dominasi sepihak.

Ada seseorang laki-laki yang punya kecenderungan melempar umpan cintanya ke segala arah, baik dengan menumbalkan ikan hias ataupun cilok marebuan. Namun, sejatinya perempuan yang dikejar memiliki tipikal yang sama: bertudung (mohon jangan ditambahi embel-embel .3gp). Sampai akhirnya, usahanya terhenti pada seorang gadis (kalau masih gadis ya) Jawa Timur, asal daerah yang sama dengan si lelaki ini. Bukan hanya asal daerah saja yang memiliki kesamaan, namun sifat dan karakter mereka pun mirip. Apa saja? Saya enggan menjelaskannya karena mamah tau sendiri….(pasang wajah Mamah Dedeh).

Dari peristiwa tersebut sudah jelas sebenarnya baik si laki-laki maupun perempuan ini mencari pasangan yang mirip satu sama lain. Atau kalau mau lebih gamblang lagi sejatinya mereka mencari cerminan diri mereka sendiri. Kenapa? Jawabannya tentulah sederhana, karena mereka narsis. Bagi orang seperti saya yang beranggapan bahwa esensi dari cinta itu adalah “menyatukan perbedaan”, tentu cara pandang seperti ini sangatlah aneh. Coba bayangkan jika seluruh keping puzzle memiliki bentuk yang sama, akankah dapat tersusun menjadi sebuah gambar yang sempurna? Tentu tidak kan. Itu juga yang menjadi hakikat kenapa manusia diciptakan berbeda-beda; guna melengkapi satu sama lain. 

Kalau memang begitu keinginan kalian lebih baik kalian menikahi cermin saja, atau menikahlah dengan diri kalian sendiri karena sejatinya kalian jauh lebih mencintai diri kalian sendiri ketimbang apa pun di dunia ini, percuma. Mungkin itu pula yang membuat hubungannya terkesan tanpa status. Entah itu berlandaskan alasan sok dewasa dengan berkata, “kita kan udah gede, pacaran itu buat anak kecil” atau dengan alasan sok islami dengan menggunakan istilah “nunggu dihalalin”. Kalau bukan pacaran terus apa dong? Ta’aruf? Ta’aruf kok di kamar berduaan? cukup Aul saja yang ta’aruf. Kalau nggak pacaran kok HP si cewek “disita” terus diintai segala tindak tanduk komunikasinya? Situ sehat Bas…eh Mas??

Ya ini baru 1 peristiwa saja yang saya bahas di post kali ini mengingat ini saja sudah cukup panjang, kasihan yang baca nanti. Intinya mungkin cara pandang saya yang salah, mungkin itu juga yang disebut sebagai cinta yang sesungguhnya atau cinta sejati atau apalah itu namanya. Mungkin.

Stephanie di Mata Seorang Fyodor Dostoevsky

Hari Minggu, tepatnya tanggal 2 April kemarin, adalah peringatan hari jadi seorang perempuan yang mengaku mirip dengan Prilly Latuconsina (walaupun kenyataannya lebih mirip Pretty Asmara). Ya, dia adalah Christen Stephanie; perempuan yang mengaku masih gadis, namun secara penampilan lebih mirip janda beranak-onda. Nah, sebagai sebuah persembahan bagi penggemar berat Ian Kasela (penyanyi “Tulus”) ini, saya akan mengulas mengenai sosok yang doyan ngemil sabun colek ini dari sudut pandang sastrawan tersohor asal negeri beruang merah, Fyodor Dostoevsky. Yang jelas, tentunya pula saya tidak akan membahas dengan cara yang in-telek ala Keretek-nya Abdul Hair.

Ternyata nama Stephanie ini terabadikan dalam sebuah karya milik Dostoevsky, tepatnya dalam novel berjudul My Uncle’s Dream. Tentu namanya disesuaikan dengan tata bahasa Russia yang mungkin hanya bisa dipahami oleh Mbak Nova saja, sehingga menjadi sebuah karakter bernama Stephanida Matveyevna. Apa artinya? Ya kalau Anda-anda sekalian teramat penasaran silakan tanya Mbak Nova saja; selama dia tidak sedang betek. Lantas, bagaimana seorang Dostoevsky menggambarkan sosok Stephanie? Berikut saya lampirkan nukilan novel My Uncle’s Dream yang menggambarkan sosok bernama Stephanie.

IMG_20170403_202700

Nah, dari deskripsi tersebut saya akan memberikan penjelasan yang sangat gamblang mengenai karakterisasi seorang Stephanie. Sudah jelas kalau secara fisik sosok Stephanie adalah seorang perempuan yang tampak tua, gendut, gemar mengenakan daster; dan ini menurut saya amatlah cocok dengan Christen Stephanie. Ia juga suka menenteng kunci lantaran kost-nya mempunyai jam malam dan tubuhnya tak se-fleksibel seorang Tanya Eirena yang piawai memanjat pagar demi…..ehem. Yang masih membuat saya heran adalah tambahan deskripsi “…only God knows” yang artinya si narator sendiri tidak bisa menjelaskan seperti apa seorang Stephanie itu. Oleh karena itu, dia lebih memilih menyerah dan berserah diri kepada Tuhan. Memang, baik sosok fiksi dalam karya Dostoevsky maupun sosok asli bernama Christen Stephanie memiliki karakterisasi yang sama yakni “tidak jelas juntrungannya”.

Lebih lanjut, Dostoevsky mendeskripsikan seorang Stephanie sebagai berikut:

IMG_20170403_202734

Ya saya rasa tak perlu lah untuk menjelaskan lagi deskripsi dari Dostoevsky tersebut karena saya sudah cukup puas ngatain Stephanie, hoho. Kalau diterusin nanti bisa-bisa doi ngambek pula terus nggak mau diajak ke kantin rame-rame #upss. 

Jadi, atas alasan “kemanusiaan” saya cukupkan saja deh pembahasan mengenai sosok Steph ini. Teruntuk Steph, kalau mau marah silakan menggugat Dostoevsky saja ya seperti Abdul Hair yang menggugat Pramoedya, hoho. Kalau masih belum puas ya silakan pukulin saya, saya ikhlas kok, asal bukan mukulin motor saya #duhh.

Jawarak Versi Admin

Mumpung selo lebih baik saya sempatkan untuk mengetik sejenak melupakan kantuk yang melanda karena susah tidur, lupakan. Kali ini tidak usah banyak basa-basi, langsung saja berikut adalah daftar jawarak menurut saya yang menjabat admin BBKU 3.0:

1. Blog ter-Stuart Hall

Untuk kategori ini jelas saya memilih lvsnrkltf.tumblr.com milik si Sunarko Levi. Alasannya? Jelas dibanding yang lain makhluk nokturnal ini lebih sibuk memikirkan konsep, mulai video hingga jokes receh. Anda harus merasakan betapa pusingnya diamemikirkan konsep tiap post yang akan dipublikasikan. Selain itu, di setiap perhelatan BBKU selalu ada sosok perempuan yang dimunculkan oleh Sunarko Levi. Jika di BBKU 2 ada si Veronica TAN, yang tidak perlu sebut nama panggilannya, di BBKU 3 ini ada si Gadis Bunga Matahari, TANya. Kira-kira jika di BBKU 4 nanti dia masih ikut, sosok siapa lagi yaa yang akan dimunculkan? Hmmmm…..

2. Blog ter-Matthew Arnold

Kalau kategori ini jelas tak ada saingan sepadan bagi euforiafingers.wordpress.com milik si Nyai Angela Frenzia. Baik nama blog maupun nama orangnya saja sudah sangat Arnoldian, apalagi tulisannya. Bahasanya luar biasa akrobatik, saya dibuatnya kaget pada tulisan pertamanya terkait 10 fakta tentang dirinya sendiri. Lihat juga cara dia merayakan ulang tahun si Abang tercinta, itu juga sangat Arnoldian. Kalau sampai si Nyai ini tidak menang, saya akan membuatkan a(wk)ward khusus buatnya.

3. Blog ter-Raymond Williams

Untuk kategori ketiga ini jelas saya memilih mengenalindah.wordpress.com milik si titisan Teh Yul Rahmawati, Maruti AHS. Jujur awalnya saya sebagai admin yang penuh kuasa ingin menjadikan angka 23 sebagai batas minimal post pada ajang BBKU 3.0 bagi blog yang layak dinominasikan sebagai jawara. Namun, saya meralatnya menjadi 20 saja lantaran Maruti pasti tereleminasi jika saya tetap memberlakukan kebijakan awal itu karena memang blog milik Maruti ini memang sangat layak sekali menjadi salah satu blog terbaik. Agak berkebalikan dengan Nyai Angela, tulisannya sederhana; nggak ndakik-ndakik, materinya terkait keseharian, dan sangat nikmat sekali dibaca. Tulisan terakhirnya di BBKU 3.0 ini sangat-sangatlah brilian, sampai-sampai saya menjatuhkan like pertama saya pada sebuah tulisan. Kalau boleh memilih, saya akan memilih Desa Jari-jari sebagai tulisan terbaik bulan ini. Saya membayangkan kalau cerita tersebut diangkat ke dalam sebuah film animasi milik Pixar, pasti akan sangat luar biasa dan bisa bersaing dengan Inside Out. Jika Maruti menerbitkan novel, saya pasti akan membelinya.

4. Blog ter-Guy Debord

Kategori yang paling ehemm dan wahh ini jelas saya menjatuhkan pilihan kepada theemeraldinmay.wordpress.com milik Sist Gisela Ayu HY. Bagaimana tidak? Tulisannya sangat-sangatlah penuh dengan spectacle; bacalah, niscaya Anda akan mengerti. Mulai dari acara ngopi-ngopi, masak-masak, sampai leisure time dan gajinya yang mabelasjutak ia pamerkan di tulisan-tulisannya. Untuk itulah saya menyematkan gelar ini kepada sosok yang saya sebut sebagai Miss Goda-able KBM ini, hoho. Maaf ya jika selama ini saya sering mengganggu atau cenderung menggoda Sist Gisel dalam bentuk apapun itu karena memang perawakan dan tanggapan dingin Sist Gisel memang selalu bikin penasaran, XOXO.

5. Tuilsan ter-Nobel

Ya kalau ini sudah jelas terpampang nyata dari banyaknya jumlah komentar yang memecahkan rekor BBKU, Jangan Dipelajari! karya Sunarko Samid-lah yang pantas merebutnya; tak ada saingan. Tulisannya memang sangatlah berbobot, berkebalikan dengan si Empu-nya yang terlihat seperti biting. 

6. Top Commenter

komen

Dari statistik di atas sudah sangat jelas terlihat bahwa sebenarnya saya sendiri-lah yang paling banyak komentar di blog milik saya sendiri (nggak jelas banget). Ya karena saya orang baik-baik yang tahu diri, maka jelas saya tidak akan memilih diri saya sendiri, melainkan si nomor dua, Levi Sunarko Latief alias lvsnrkltf alias Pahlevou alias LIEM YANG ASLI alias Mboss dengan nama asli Riza Pahlevi. Ya emang ini orang nggak ada kerjaan makanya dia suka komentar dengan banyak akun macam jurus Kagebunshin no Jutsu milik saya si Naruto yang sebenarnya; memang begitulah Konohamaru murid pertama saya ini.

 

Jadi, itulah para jawarak versi admin yang mengaku bukan maling jemuran ini. Jika kalian tidak menang pada BBKU 3.0: The A(wk)ward besok, setidaknya kalian sudah menjadi pemenang di hati dan mata admin; sebuah prestasi yang tidak main-main, hoho. Sekian dan sampai berjumpa di ajang penentuan pemenang esok. Dadaaaahhh….