Ninja Buron

Meme di atas rasanya menjadi jawaban bagi para penikmat Naruto atas pertanyaan “mengapa Itachi Uciha menjadi ninja buron?”. Ya, dia ternyata menjadi penyebab kecelakaan SN kemarin. Sudah pasti dia dikejar KPK untuk dimintai keterangan dan dituntut oleh tim kuasa hukum SN karena kecelakaan itu merupakan akibat dari genjutsu kelas tinggi milik Itachi. Membunuh seluruh klan Uciha sejatinya hanyalah pengalihan isu belaka. Jadi, kita tunggu saja sampai Akatsuki menyerang Indonesia dan Jokowi mampu menaklukan Kyuubi, sampai saat itu pula lah mungkin korupsi akan enyah dari negeri kita tercinta ini. 

Sekian

Advertisements

The Ians

Mengingat tema kali ini tentang aidoru idola yang menginspirasi, saya juga akan berbagi “objek sesembahan” saya deh karena saya tahu penderitaan admin yang harus bisa mengkondisikan para warga BBKU, hoho. Baiklah, kalau begitu saya akan menunjuk orang-orang bernama depan Ian sebagai idola saya, dan mereka semua berkecimpung di dunia musik karena ya mungkin hanya musik lah passion terbesar yang pernah saya miliki dan membuat saya betah hidup hingga kini (walaupun dulu sempat ngebet banget menjadi pemain sepak bola gara-gara Tsubasa Ozora). Yak, untuk kali ini saya akan membahas Ian Kasela Ian Curtis dan Ian Brown, walaupun masih ada Ian lain yang tak kalah hebatnya.

Ian Curtis

iancurtis170913w

“Reality is only a dream, based on values and well worn principles, whereas the dream goes on forever.”

Hmm…rasanya bagi kaum “puritan” musik British pasti sudah mafhum dengan sosok yang satu ini. Ya, dia adalah vokalis dari band kenamaan Joy Division. Saking pentingnya sosok “orang sakit” satu ini sampai-sampai sosoknya dibuat film yang berjudul Control (2007). Lantas, kenapa Ian Curtis? Buat saya dia adalah legenda yang menginspirasi legenda untuk menjadi legenda juga (nah, ribet nggak tuh). Berkat sosoknya lahir legenda lain seperti Thom Yorke, pentolan Radiohead. Thom Yorke bersama Radiohead kerap membawakan lagu-lagu Bung Ian macam “Love Will Tear Us Apart” dan “Ceremony”. Sosok Ian yang satu ini terkenal dengan epilepsy dance-nya karena memang dia ini pengidap epilepsi; itu juga yang menjadi salah satu faktor mengapa ia memilih bunuh diri sebelum genap berusia 24 tahun. Sesuatu yang tentunya sangat disayangkan karena ia bunuh diri hanya berselang beberapa hari sebelum rangkaian tur terbesar Joy Division di Amerika. Saking sentralnya sosok Ian Curtis ini sampai-sampai Joy Division berubah nama menjadi New Order, kemudian Bernard Summer yang tadinya “hanya” menjadi gitaris naik jabatan menjadi vokalis. Jika kita melihat quote Ian Curtis di atas, pastilah kita paham pesimismenya terhadap dunia; itu juga yang mungkin membuat dia memilih hidup dalam “mimpi yang abadi”. Kalau begitu saya mau berterimakasih kepada Ian Curtis yang telah memberi warna pada musik dengan semangat post-punk-nya. Berkat dia lahir beberapa generasi musisi kritis, tidak hanya mengejar keuntungan komersial macam…..(silakan isi sendiri, hoho). Untuk menutup pembicaraan tentang Ian Curtis saya akan berikan video musik dari lagunya yang paling tersohor “Love Will Tear Us Apart”:

Ian Brown

ian brown

“If you put your cameras down you might be able to live in the moment. You have a memory there of something you’ve never lived.”

Ian Brown ini merupakan generasi penerus Ian Curtis dengan bandnya, The Stone Roses. Menurut saya, dia adalah orang yang sangat beruntung bisa mendapatkan servis dari gitaris sepiawai John Squire. Namun, sayang Ian yang satu ini memang bakat songong, hoho. Itu pula yang menyebabkan konflik di antara Ian Brown dan John Squire yang berujung perpisahan. Bakat songong-nya ini pula lah yang ia wariskan ke musisi generasi 1990-an macam Richard Ashcroft (The Verve) dan Liam Gallagher (Oasis). Jika dirunut kisah mereka memang mirip, Richard Ashcroft juga memiliki gitaris handal yakni Nick McCabe dalam tubuh The Verve dan Liam Gallagher punya sang saudara kandung, Noel Gallagher, pada posisi gitaris meski tak sepiawai Nick McCabe apalagi John Squire. Ujungnya? Ya, semuanya berujung konflik dan perpecahan meski sempat reuni beberapa kali. Jika kita memperhatikan musik Oasis dan The Verve, semestinya kita paham bagaimana sosok Ian Brown ini mempengaruhi mereka. Liam Gallagher sendiri pernah bercerita kalau dia berniat ngeband karena lagu “Sally Cinnamon” milik Ian Brown dan The Stone Roses (kalau saya tidak salah ingat ya, hoho). Kalau diperhatikan lagi gaya ketiga orang ini (Ian Brown, Richard Ashcroft, dan Liam Gallagher) mirip, mulai potongan rambut hingga penampilan di atas panggung. Lagi, sentimen pro-Manchester Ian Brown ini juga ditiru oleh Liam Gallagher. Atas alasan itu lah saya memilih Ian Brown sebagai sosok inspiratif karena darinya lahir sosok inspiratif lain seperti Richard Ashcroft dan Liam Gallagher yang musiknya mengiringi masa pertumbuhan saya. Untuk menutup pembicaraan tentang Ian Brown berikut saya berikan video musik The Stone Roses yang berjudul “I Wanna Be Adored” yang merupakan lagu paling ear worm sepanjang hidup saya; setiap kali dengar pasti nyambung ke lagu Srimulat karena bassline yang identik, hoho.

 

Jadi, itu lah mereka yang saya anggap sosok inspiratif. Sebenarnya masih ada Ian lain, yakni Ian McCulloch yang juga vokalis Echo & The Bunnymen (alasan saya menonton Donnie Darko), tapi saya cukupkan ke dua sosok Ian saja karena sudah cukup panjang pembahasan saya, kalau masih kurang panjang ya bawa saja ke Mak Erot.

Sekian

Kucing dalam Sarung

Gara-gara post Syifanie yang berjudul “Eek Miaw” kemarin saya jadi teringat dengan kucing yang kini betah berkeliaran di rumah saya. Entah dari mana datangnya kucing perempuan yang satu ini, yang jelas dia manjanya minta ampun. Berbeda dengan kucing liar umumnya yang biasanya cuma numpang lewat sekedar cari makan dari rumah ke rumah, kucing ini justru lebih memilih berdiam di dekat rak sepatu belakang rumah saya, tepatnya sejak 2 minggu yang lalu. Karena saya termasuk orang yang tidak berperikemanusiaan, saya beri saja kucing itu susu cair tanpa sukrosa dan sepotong nugget yang saya potong-potong agar dia mudah memakannya. Ketika dia tiba di rumah saya memang terlihat badannya kecil, tapi yang saya heran dia justru sama sekali tidak takut dengan kehadiran manusia, malah berusaha “merangsang” saya buat memanjakannya.

Mungkin karena tak kuasa menangkis semua “rangsangan” yang dia berikan, akhirnya saya belikan dia makanan kucing merek salah satu nama Pokemon dan susu sebagai pelengkap. Setelah itu, ternyata si kucing ini malah makin manja, yang tadinya betah di luar rumah saja, kini sering merengek ikut masuk rumah saya. Awalnya saya berusaha menghalanginya karena adik perempuan saya takut setengah mati dengan kucing, kalau sudah kalap bisa rubuh nanti rumah saya. Namun, setelah si kucing ini mendapat serangan dan godaan dari para kucing jantan nan jalang yang membuatnya takut, mau tak mau ya saya ajak dia masuk, dengan syarat ketika adik perempuan saya tidak di rumah. 

Untuk seekor kucing tanpa asal usul yang jelas, sikapnya sungguh “sopan”. Dia sama sekali tidak pernah naik ke meja makan untuk ngobrak-abrik makanan, ataupun membuat berantakan isi rumah. Ya karena saya kudu nesis, saya mau tak mau mengajak dia ke kamar saya. Dia pun langsung betah rebahan di kasur, tapi harus dikeloni sambil dibelai manja, saya tinggal sedikit saja pasti langsung bangun dan mengeong manja lagi. Ya akhirnya saya tidak bisa nesis demi dia (alesan ae, bilang aja males, hoho). Saya menemani dia tidur di kasur dan yang terjadi dia justru mencoba untuk naik ke dada saya kemudian berusaha mencium wajah saya. Nah lho, saya pun langsung kepikiran cerita hentai (dasar otak mesum!) di mana ada seorang lelaki yang menyelamatkan kucing dan kemudian kucing itu berubah wujud menjadi perempuan yang merupakan sosok aslinya hingga akhirnya mereka berdua pun bergumul mesra. Jangan sampai deh kejadian sungguhan itu cerita, takutnya saya malah menikmati, hoho. 

Ternyata apa yang terjadi setalah itu? Ternyata dia mau poop, jadilah dia poop di kamar saya dan mau tidak mau saya harus membersihkan dan ngepel kamar saya tengah malam itu. Untuk mengusir baunya yang tak kunjung hilang, saya buka semua jendela dan semprot pengharum ruangan sebanyak-banyaknya. Ya akhirnya malam itu saya tak bisa tidur karena mengurus si kucing. Mongomong saya belum kasih nama untuk kucing itu, kalau begitu saya beri nama Gatomon saja siapa tahu nanti bisa berubah jadi Angewomon (kendalikan imajinasimu Nak!).

Sekian

Benjut

Kalau Anda warga Jogja pastilah sudah akrab dengan papan peringatan di komplek-komplek pemukiman warga yang berbunyi “Ngebut Benjut”. Ya, peringatan tersebut jelas diperuntukkan bagi mereka yakni pengendara kendaraan yang suka membuat onar di jalanan. Bukan hanya membuat pengguna jalan lain dongkol, namun juga membuat warga yang berada di dalam rumah pun resah. Mungkin warga itu takut kalau rumah mereka nantinya kena sruduk para pemuja 46 (ini maksudnya Valentino Rossi ya si VR46, bukan Nogizaka 46) yang doyan ngebut sok jago meniru kelakuan sang idola di sirkuit: ya saya ini contohnya dulu. 

Pada tahun 2005, ketika saya masih SMP, saya doyan motoran bersama teman-teman yang hobi nongkrong di rental PS seharian. Paling suka ya ngetrek di jalan sebelah timur Stadion Maguwoharjo, mengingat jalurnya yang lurus dan bisa memacu kecepatan motor hingga maksimal. Ketika teman-teman lain sudah memakai helm full face, saya masih memakai helm “ciduk”: jadilah mata merah nan pedas dan helm itu berontak ingim terbang bersama angin. Namun, cerita epik yang sesungguhnya hadir setelah itu, ketika saya bersama teman saya yang bernama Dian (bukan Dian Dwi Anisa, Dian Sastro, Dian Nitami, ataupun Dian Pramana Putra) menjemput teman lain, Lukman (bukan gitaris Noah ya), di Perumahan Kadisoka. Sesaat setelah menjemput Lukman dan hendak berangkat ke kediaman teman lain, Chandra, kejadian maha dahsyat pun terjadi (lebay!). Bruakkkk.. Tung… Dyarrr… Krosekkk… Duoorr! Saya menabrak rumah tetangga Lukman, pot-pot tanamannya ludes berserakan di pinggir jalan. Sontak, emak-emak satu kompleks langsung keluar rumah semua. Waw! 

Kalau ada yang bilang ribet melawan seorang emak, ini saya harus berjibaku menghadapi serbuan puluhan emak-emak murka jadi bisa terbayang lah seperti apa siksanya, hoho. Namun, semua ketakutan saya itu hanya ada di pikiran saja, si emak pemilik rumah yang saya tabrak ternyata sama sekali tidak menuntut ganti rugi: ya walaupun harus kena damprat yang cukup pedas dari komplotan emak-emak itu. Mungkin secara fisik saya tidak terluka apalagi benjut, namun secara psikis hati saya teramat benjut, hoho. Mungkin ini juga lah yang terjadi kepada Bapak Ketua DPR kita yang terhormat. Mungkin dia syok juga karena mendapat omelan dari emak tiang listrik yang dia tabrak, lantas pingsan tak sadarkan diri karena kena setrum ala Pikachu. Ya mungkin. 

TBC

Vokal

a i u e o

i u e o a

u e o a i

e o a i u

o a i u e

a u e o i

a e o i u

a o i u e

i u e o a

i e o a u

i o a u e

i a u e o

u o a i e

u a i e o

u i e o a

e a i u o

e i u o a

e u o a i

o i u e a

o u e a i

o e a i u

Aku Ini Anak Siapa?

Itu adalah salah satu meme lawas di 1cak yang juga misteri abad ini yang hingga kini pun saya tak bisa menemukan jawabnya. Maka dari itu saya menantang para agen Cool Japan  untuk  memberikan pencerahan kepada saya.

Jangan-jangan nanti ujung-ujungnya Shizuka sebenarnya adalah anak biologis dari ayah Nobita? 

Jika memang begitu coba bayangkan bagaimana perasaan Nobita yang ternyata mencintai saudara kandungnya sendiri. Pastilah hancur berantakan itu seluruh hati dan jiwanya, tapi tenang jika Nobita atau Anda-anda sekalian stress berat dan membutuhkan jalan pintas saya punya solusinya, inilah dia “mainan” yang bisa menentramkan jiwa Anda-anda sekalian

Cukup dengan Rp 123.456,- saja Anda dapat memilikinya, dan jangan lupa produk ini bergaransi. Jika gagal pada 3 percobaan pertama silakan hubungi call centre kami niscaya seperangkat algojo akan hadir di depan Anda denhan tingkat keberhasilan eksekusi 99.88%. Tunggu apa lagi, silakan datangi outlet terjauh kami, akan ada diskon sebesar 0.05% bagi pembeli ke-37. Tunggu apa lagi Dek!

Biola Tak Bergawai

Tahun 90-an ya??? Hmm, hal yang tentunya terkenang bagi saya adalah masa di mana tilpun yang katanya pintar belum menyerang kehidupan manusia. Ketika parameter kesuksesan dalam musik masih diukur dengan jumlah kopian album, bukan dari banyaknya diunduh atau diputar via layanan streaming; ketika suara belum menjadi amat sintetis. 

Berbicara mengenai masalah pada dekade 1990-an tentunya yang menjadi kenangan bagi saya adalah koleksi album fisik, baik dalam bentuk kaset maupun VCD. Saya jadi ingat kaset pertama yang saya amat idamkan dan akhirnya saya miliki ketika berulang tahun di akhir 1990-an, album pertama dari Sheila on 7. Kado yang amat sederhana karena hanya dibungkus kertas koran saja, saat bungkus kado belum menjadi sebuah komoditas berarti macam sekarang. Mengikuti setelah itu, album dari Caffeine hingga Westlife, mengingat otak saya belum diracuni Thom Yorke dan Richard Ashcroft.

Selain itu, masa di mana saya belum genap 10 tahun itu juga ditandai dengan berjayanya lagu anak-anak. Ketika Sherina masih menjadi “bocah suci” idaman cowok masa itu. Begitu pun saya, sampai-sampai saya pun cemburu hingga marah ketika dia dengan entengnya dicium jidatnya oleh Derby Romero. Saya pun saat itu menyimpan dendam kesumat dengan si cowok songong itu. Perasaan yang sama mungkin juga bakal dialami para vvota di masa kini ketika oshi mereka disentuh-sentuh secara sembarangan oleh pesohor layar kaca. Rasanya amat bahagia ketika saya mendapati video musik Sherina ditayangkan di acara-acara musik pada masa itu, baik yang dipandu oleh Agnes Monica maupun Trio Kwek Kwek.

Lalu, saya juga jadi teringat masa TK di sekolah “budidaya” Amien Rais, sekitar medio 1990-an tentunya. Ketika itu, ada seorang gadis yang menjadi primadona yang bernama Amelia. Ya karena saya memang amat berbakat menjadi cowok songong, tentunya saya suka curi-curi kesempatan dengan dia. Misal, ketika kami bermain petak umpet atau kejar-kejaran dan dia yang mendapat giliran “jaga”, saya selalu mengalah sampai teman-teman cowok saya lainnya jelas pada sambat kepada saya. Terus, tiap Minggu saya selalu meminta Bapak saya mengantarkan saya  ngapel ke rumahnya, sampai saya meminta dibelikan TV yang sama dengan milik si Amelia ini, TV Sony 21″ yang entah apa serinya. Sedihnya, TV saya ini kemudian dimaling ketika saya sedang tidur di hadapannya menjelang Piala Dunia Perancis 1998: hancurlah hati dan perasaan saya kalau itu, huhu. Hal yang paling membuat saya paling penasaran bukanlah nasib TV saya dulu yang tentunya sudah ketinggalan zaman, melainkan bagaimana perawakan Amelia saat ini, hoho, mengingat kami terpisah semenjak lulus dari TK di daerah Pandean Sari itu.

Itu saja deh, malas juga menulis “lebih larut” lagi, sudah cukup buka aibnya. Salam saja buat Amelia, yang saya sendiri lupa siapa nama lengkapnya.

Terjebak Cinta Seorang Feminis

Dari judulnya kok kaya judul FTV ya? Bodo amat lah, karena materi ini jujur terlintas begitu saja. Saya hanya ingin menceritakan kisah saya ketika “terjebak” cinta seorang feminis, kalau misal rada seksis harap maklum ya karena memang itu sedikit disengaja demi bumbu-bumbu cerita.

Hal apa saja sih yang selalu menjadi perdebatan dengan pasangan yang memiliki kiblat pemikiran feminis?

1. Warna Baju

“Kok cowok bajunya monokrom terus sih? Bisa nggak sih cowok pake baju yg colourful? Besok pokoknya kalau beli baju kamu pilih yang warna pink!” Begitu lah kiranya sabda doi menanggapi warna pakaian saya yang dominan hitam dan putih saja, kalaupun berwarna ya mungkin hanya yang berwarna “maskulin” macam merah atau biru. Ya mulai sejak itu akhirnya saya tidak pernah memilih hitam atau putih sebagai pembalut tubuh saya karena black and white itu sudah menjadi milik Michael Jackson. 

2. Ambil Alih Kemudi

“Sini biar aku aja yang boncengin kamu, dan kamu nggak usah malu ya kalo diboncengin cewek.” Seperti itu lah kemauan doi yang tak mau sekedar hanya menjadi “beban”, tapi justru mau menanggung “beban” di belakangnya, yaitu saya sendiri. Awalnya pasti sebagai lelaki yang amat sangat ma(c)ho saya merasa tengsin lah ya, apalagi ketika mendapati pandangan sinis sana sini ketika di jalan dari para pengguna jalan lagi, apalagi ketika tengah berhenti di lampu merah. Dalam pikiran saya berkecamuk kalau mereka bilang, “ih, cowok itu nggak guna banget ya, masa diboncengin sih sama cewek”. Yang paling berat tentunya ketika doi kedinginan dan minta dipeluk, ya masa saya peluk dari belakang? Apa nggak aneh coba? Nah, itu sebenarnya yang bagi saya justru menjadi semacam tindakan diskriminasi terhadap laki-laki. Laki-laki macam saya itu kerap dipandang “impoten”. Itu masih mending, coba bayangkan ketika ada sepasang perempuan bergandengan tangan, orang-orang pasti berasumsi bahwa mereka sepasang xahabat. Namun, jika laki-laki yang melakukannya pasti dianggap ah sudahlah. Entah kenapa makin ke sini dunia makin tak adil bagi laki-laki.

3. Tidak Mau Menikah

“Aku sih pengennya nggak nikah sama nggak punya anak. Aku maunya hidup bareng aja satu rumah tanpa ikatan pernikahan kaya di Barat. Tapi aku juga pengen ngasih nama Winter buat anakku nanti.” Kiranya seperti itu lah cara pandang doi terhadap komitmen berkeluarga yang membuat saya bingung adalah doi nggak pengen punya anak, tapi udah nyiapin nama anak??? Kan saya jadi bingung, lalu saya memberi solusi dengan menawarkan adopsi saja, tapi sama saja dia membalas, “ribet”. Akhirnya dia berubah pikiran, “Ya udah deh, aku mau ngelahirin tapi 1 anak aja, dan itu cowok biar cocok sama nama pilihanku”. Nah, itu justru makin runyam lagi situasi, yang akhirnya memaksa saya mencari “jurus” agar anak yang dihasilkan bisa berjenis kelamin laki-laki. Tentunya, saya tak akan membocorkannya di sini lah ya, hoho. Namun, sama saja, anak itu tidak diperoleh dari buah pernikahan, hal yang bisa membuat saya dirajam 1 bulan non stop oleh keluarga besar saya yang memang keluarga Muhammadiyah, hoho.

4. Make-Up

“Itu kok eyeliner sama eyeshadow kamu nggak cocok sih? Harusnya kan disesuaiin sama warna baju aja” itu komentar saya saat doi tumben macak saat ngampus dengan dandanan yang cukup “heboh” dibandingkan biasanya yang lebih terkesan natural. Komentar dia? Diam dan ngambek, hoho. Mungkin dia kesal kok bisa-bisanya saya lebih paham soal make up dibanding doi, ya padahal saya cuma modal sotoy saja setelah mengikuti Make-Up class dari Wardah. (Duh, ketahuan)

Ya begitulah kiranya hal-hal yang sering menjadi perdebatan ketika berpasangan dengan perempuan yang menjiwai feminisme. Perlu dicatat, itu hanya pengalaman saya pribadi jadi jika ada perbedaan pemahaman ataupun cara pandang harap maklum. 

Love Yourself #2

Yak, post kali ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya 2 hari yang lalu mengenai “perbudakan” cinta atau apalah itu namanya. Langsung saja saya mulai kalau begitu, tak usah berbasa-basi (lha ini kan juga basa-basi).

Sebelumnya saya membicarakan asal muasal drama romansa yang berasal dari dominasi sepihak, kali ini pun sama, hanya saya yang satu ini memang lebih luar biasa kasusnya. Kali ini saya akan membicarakan seseorang lelaki yang memang punya pesona luar biasa hingga para wanita pun rela “merendahkan” dirinya demi bisa “menyentuhnya”. 

Ya, kenyataanya memang siapapun perempuan yang “dekat” dengannya harus rela kehilangan identitasnya; tentunya karena dominasi luar biasa dari si lelaki ini. Misalnya, dari cara menulis, berpikir, hingga obsesi si perempuan pun sudah menjadi konstruksi si lelaki. Tengoklah saja dari hal yang sederhana; keseragaman domain blog yang sama-sama menggunakan​ Tumblr. Bukan hanya itu saja, cara menulisnya pun juga sama, bukan lagi serupa, diksi yang digunakan, tema yang dipilih, hingga pola penulisan. Bukankah itu merupakan salah satu bentuk dominasi yang sudah di luar batas wajar??? Kalau itu hanya terjadi sekali saja mungkin masih bisa dianggap wajar, nyatanya ini tidak terjadi hanya sekali saja; bukti bahwa si lelaki ini memang selalu melakukan dominasi berlebihan.

Selain itu, cekokan mengenai pemikiran ala-ala pemikir Inggris juga merajai pikiran si perempuan. Tengoklah ketika sedang menanggapi materi dosen di kelas, pasti si perempuan akan langsung membahas ala pemikiran si orang Inggris tersebut. Sebenarnya itu ada salah satu penanda bahwa si perempuan sebenarnya hanya bisa melihat 1 perspektif saja; yakni apapun dari si lelaki. Begitu pula dengan si lelaki, dia hanya bisa melihat dari 1 perspektif saja; apapun mengenai dirinya sendiri. 

Tak heran makanya apabila si lelaki ini ditinggal oleh orang yang paling dicintainya setelah membangun hubungan selama 4 tahun. Hal itu wajar karena pasti si pasangan yang dicintainya lelah hidup dalam “penjara” si lelaki. Jika memang cinta sudah selayaknya memberi kebebasan kepada pasangan, bukan justru “menjajahnya” dengan keegoisan diri. Biarkanlah dia menari dengan bebas dengan iringan cinta, bukan justru memaksanya menari dengan “rantai” seperti atraksi topeng monyet. Seharusnya peristiwa itu menjadi pembelajaran bagi si lelaki, namun apa daya ternyata keegoisan masih merajai hati dan pikirannya jadi semua rencana Tuhan seakan terbuang percuma.

Dari situ sudah jelas kan bagaimana sejatinya si lelaki ini amat mencintai dirinya sendiri hingga ia memaksa orang yang mencintainya menjadi seperti dirinya, dalam segala hal tentunya. Jika si lelaki ini masih mempertahankan tradisi tersebut saya yakin dia tidak akan pernah memiliki hubungan yang “sempurna”. Lagi, saya juga heran hari gini ternyata masih ada perempuan yang rela didominasi, apalagi mereka yang telah mendapat cekokan cara pandang kritis hingga feminisme. Sampai kapan sih kalian rela didominasi? Bahkan hingga “true self” kalian sendiri hilang sekalipun kalian masih rela didominasi? Kalau memang kalian mencintai si lelaki lebih baik kalian memberi “tamparan keras” bukan justru hanyut dalam genjutsu si lelaki, tentunya ini semua juga demi kebaikan si lelaki. Percuma kalian berbicara lantang mengenai self-identity hingga proyek refleksi jika kalian sendiri tidak bisa being reflective & reflexive. Begitu juga si lelaki, selalu mengulang-ngulang mengenai proyek refleksi diri namun tak bisa berefleksi dan terus melakukan “kesalahan” yang sama. Bagi si perempuan, dengan menuruti segala permintaan dan arahan si lelaki justru sejatinya akan semakin menyiksa mereka: si lelaki tak akan pernah sadar akan kesalahannya dan si perempuan seolah akan “mengubur” dirinya hidup-hidup. Come on girls, kalian ini punya otoritas, percuma kalian mendapat cekokan ini itu dari Bu Nana atau Bu Wening jika nyatanya masih hidup dalam kungkungan lelaki yang tidak jelas arahnya. Takut kehilangan itu bukanlah sebuah alasan, bukankah kalian sudah belajar Semiotika dengan Pak Kris? Percuma jika kalian hanya curhat di media sosial atau menahan tangis semalam, itu tak akan pernah menyelesaikan masalah dan si lelaki pun tak akan menggubrisnya.

Hmm…ternyata saya malah menulis dengan panjang lebar rupanya dengan bahasan yang cukup serius. Lebih baik saya akhiri saja tulisan ini dengan sedikit menggantung. Mungkin kalian yang membaca bertanya-tanya siapakah sosok lelaki yang saya bicarakan kali ini. Ya, saya sedang membicarakan diri saya sendiri.

Jika Aku Menjadi….

Hmmm, sebenarnya saya kurang suka tema yang penuh pengandaian seperti ini, ya karena saya bukan tipe orang yang suka berandai-andai. Tetapi ya apa boleh buat, karena berbagai urusan “dalam negeri”, saya harus merelakan jabatan admin kepada seorang Tanya Eirena yang sesungguhnya hanyalah “bawahan” seorang Levi Sunarko yang penuh kuasa.

Jika saya menjadi pemegang otoritas tertinggi di UGM, seorang rektor, hal yang pertama kali saya lakukan adalah menaruh tahta kepemimpinan saya dan memberikannya kepada seorang Sunarko Levi karena tak ada lelaki yang mempunyai otoritas pemikiran seperti dia. Lagi, dia sudah memahami seluk beluk UGM sepenuhnya karena memang sudah melanglang buana sejak tahun 2001 di UGM, tengok saja koleksi mantannya yang mencapai ratusan, hoho.

Lantas apa yang saya lakukan selanjutnya? Tentunya saya akan menuju UB, joining UB is the best, together we share!